04/10/11

SMA Angel

I. Penyamaran dan Penyelidikan Azuka
(Part 4)

Keesokan harinya di SMA Angel dengan suasana yang sama setiap harinya dan aktifitas yang sama dilakukan Azuka.

“Selamat pagi Hallway!”, sapa teman-teman yang melihatnya memasuki kelas II-D.

“Pagi.”, balas Azuka. Sesekali dia menguap. Sebenarnya, tadi malam dia kurang tidur karena memikirkan kelas II-E, kelas yang khusus akan diajarnya selama kurang lebih satu tahun mendatang.

“Hallway masih ngantuk, ya? Kurang tidur?”, tanya Mitsuki sembari duduk di sampingnya.

“Hanabichi, aku boleh nanya sesuatu ngga sama kamu?”, tanya Azuka sedikit berharap.

“Boleh. Emangnya kamu mau nanyain apa?”.

Dengan raut muka yang agak kusut, Azuka memulai pertanyaannya yang telah disusunnya semalam dan dihapalnya. Dia memang sengaja lebih akrab dengan Mitsuki karena menurutnya hanya Mitsukilah orang yang paling banyak mengetahui rahasia-rahasia siswa lain, sesuai dengan julukannya ‘si ratu gosip yang serba tahu’.

“Gin Ryuki itu, orangnya emang suka bolos, ya? Soalnya, sudah empat hari aku di sekolah ini, tapi dia ngga pernah masuk.”, tanya Azuka dengan suara menyelidik.

Tanpa basa-basi dan curiga sedikitpun Mitsuki menjawab satu per satu pertanyyan Azuka.

“Kamu tahu banyak, ya?”, puji Azuka.

“Mitsuki gitu loh!”, puji Mitsuki pada dirinya sendiri.

Menurut penyelidikan Azuka, semakin dipuji Mitsuki akan semakin senang menjawab apa pun yang ditanyakan kepadanya walaupun pertanyaan-pertanyaan itu cukup konyol.

“Ini pertanyaan terakhir, kata teman-teman, kelas II-E nakal-nakal dan ngga bisa diatur, kenapa bisa begitu?”, tanya Azuka lagi.

“Ya, begitulah mereka. Terutama si Sakuragi itu. Kerjanya hanya berkelahi saja. karena ulahnya dan teman-teman sekelasnya, banyak guru yang tidak betah mengajar di kelas itu, kecuali kepala sekolah yang masuk,”, jelas Mitsuki.

“Masa, sih, Anak yang bernama Sakuragi itu seperti itu?”, ucap Azuka tak percaya dengan Lee yang ditemuinya semalam.

“Emang sih, kalau ada kepala sekolah dia ngga berbuat onar karena lee ngga pernah masuk kelas kalau beliau yang masuk. Bolos gitu loh!”, tambah Mitsuki.

“Ok. Trim’s atas jawabannya.”.

Mitsuki segera mengeluarkan buku kimianya begitu pak guru masuk.

Selama pelajaran berlangsung, Azuka hanya melamun saja memikirkan informasi-informasi yang didapatnya. Dia sangat beruntung karena pak guru tidak memperhatikan  lamunannya.

Bel istirahat berbunyi. Setelah pelajaran kimia, mereka akan berolahraga. Selain sastra Jepang, hal yang disukainya adalah olahraga. Itulah yang menyebabkan Azuka jarang terkena penyakit. Tubuhnya pun sangat bugar dan atletis. Kata orang-orang “berbodi model”, walaupun tinggi badan Azuka di bawah standar untuk menjadi seorang model remaja.

“Miss Hallway, ini pakaian olahraga dari kepala sekolah.”, Maki dari kelas II-E menyerahkan bungkusan berwarna cokelat.

“Terima kasih. Nama kamu Maki Watase, kan? Salam kenal, namaku Amy Hallway.”, Azuka menyodorkan tangan kanannya.

“Maaf, ya, miss Hallway, aku harus balik lagi ke kelasku. Soalnya.... mungkin kamu sudah tahu dari...., ya....., orang yang duduk di sampingmu itu.”, sindir Maki. Dia dan Mitsuki saling memandang sinis dan berlalu pergi.

Dengan segera Mitsuki kembali melanjutkan mengganti pakaian olahraganya dengan wajah kesal.

“Hanabichi, maksud perkataan Watase tadi itu apa? Kok dia ngga senang dengan keberadaanmu?”, selidik Azuka namun disembunyikannya dengan memasang wajah bingung.

“Dia itu musuh besarku. Menyebalkan! Menyebut namanya saja aku ngga sudi. Sebenarnya naik kelas II ini, aku juga ditempatkan di kelas II-E, begitu juga degan Gin Ryuki. Tapi, karena kami sering bertengkar mulut dan saling memaki bila ada kesalahan yang aku atau dia perbuat, walaupun permasalahannya sangat sepele, kami pasti ribut lagi. Itulah sebabnya aku dipindahkan di kelas ini. Tapi, kalau si Gin sih, karena dia suka berkelahi dengan Sakuragi dan sering membolos.”, jelas Mitsuki.

“Gawat juga kalau begitu.”, bisik Azuka.

 ----------------------------------------------------------------------------------

Sementara itu di kelas II-E terdengar bunyi meja yang dipukul-pukul sehingga menimbulkan kegaduhan.

“Bertemu Mitsuki lagi, ya?”, tanya Kanata yang lagi asyik dengan laptopnya.

“Ya iyalah! Siapa lagi, sih, orang yang sangat memuakkan seperti dia di sekolah ini. Kalau miss Hallway ngga ada di situ, aku pasti udah mencacinya sampai air liurku kering, kalau bisa.”, kesal Maki.

“Jadi, nama siswa asing itu Miss Hallway?”, Kanata sedikit putus asa dengan analisis yang baru saja dibuatnya selama memainkan game laptopnya.

“Amy Hallway tepatnya.”, ujar Maki.

(Bersambung ke Part 5...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar