I. Penyamaran dan Penyelidikan Azuka
(Part 1)
SMA Angel. Suasana hening seketika begitu terdengar bunyi bel tanda proses belajar mengajar dimulai, kecuali kelas II-E yang terkenal dengan kegaduhannya. Tak heran jika tak satupun guru yang betah mengajar di kelas itu. Minggu lalu, ada seorang guru baru yang mengajar Bahasa Inggris di kelas itu, tapi belum 15 menit mengajar, guru itu pun keluar dengan wajah yang kesal dan kepayahan. Itulah hari terakhir kelas II-E belajar dengan bimbingan guru. Tak satupun guru yang mau mengajar di kelas II-E. Oleh karena itu, Kepala Sekolah SMA Angel hanya menugaskan mereka mengerjakan sendiri buku tugasnya.
“Kamu tahu ngga, di sekolah kita ini akan kedatangan siswa pertukaran pelajar dari luar negeri loh!”, ujar Maki pada Kanata yang lagi asyik mengakses laptop kesayangannya.
“Tahu dari mana kamu?” tanya Kanata.
“Kamu itu maniak komputer, raja penguasa komputer n segala yang berbau komputer, masa sih ngga tahu? Biasanya kan kamu orang pertama di sekolah ini yang tahu apa-apa saja yang akan terjadi.”, jelas Maki. Seperti biasanya, jawaban Maki selalu berbelok dari apa yang ditanyakan. Inilah salah satu penyebab dirinya selalu saja bertengkar dengan Mitsuki.
“Mulai lagi, deh, ngawurnya. Pantas saja si Mitsuki selalu mengejekmu. Parahnya lagi, kamu tuh juru kunci terbodoh di sekolah ini.”, ujar Kanata.
Maki hanya terdiam mendengar celotehan Kanata. Sebenarnya Maki hendak membalas ucapan Kanata, tapi ucapannya memang benar. Sesuai dengan prinsipnya, dia tidak akan membalas kalau kenyataannya memang seperti itu. Tapi, dia akan membalas lebih kejam lagi kalau kenyataannya ngga benar.
“Kalau kedatangan siswa misterius itu kan udah tersebar ke seluruh pelosok sekolah.”.
“Siswa pertukaran pelajar, ya..... dari Amerika kan?”, selidik Kanata. Sebab sepengetahuannya, yang akan pindah ke SMA Angel adalah seorang guru. karena berita inilah yang membuatnya tidak tidur semalaman. Sebagai maniak komputer dan internet, istilah kerennya “hecker”, Kanata berusaha mencari informasi tentang guru yang didatangkan khusus dari luar negeri untuk mengajar di kelasnya, tapi hasilnya nihil. Dia hanya memperoleh sedikit informasi dari berbagai sumber dalam komputernya dan sumber-sumber internet internasional.
“Bukan. Dia dari Inggris.”, terang Maki sambil melihat kendaraan yang keluar masuk dari rumah sakit tepat di samping sekolah .
‘Bukan dia. Aku kira kepala sekolah menyuruh guru baru itu menyamar jadi siswa dan masuk di kelas ini. Seandainya siswa baru itu memang masuk di kelas ini, maka analisaku ini benar.’, batin Kanata.
“Kamu lagi buat apaan sih? Dari tadi laptop melulu yang kamu urusin?”, tanya Maki ingin tahu.
“Aku lagi menyusup ke sistem komputer sekolah. Ya..... untuk mencari informasi terkini mengenai sekolah. Berhasil!”, seru Kanata. Matanya tak lepas dari layar laptop dihadapannya.
“Apanya yang berhasil?”, tanya Maki.
“Menyusup.”.
“Wow!!! Pintar juga kamu. Geser dikit dong!”, Maki bergegas duduk di samping Kanata.
Mereka terus mencari dan terus mencari tentang data-data siswa yang akan berada di sekolah mereka selama satu minggu. Namun sia-sia saja. mereka hanya mengetahui inisial siswa itu, A.H. Selain itu, mereka tidak menemukan data-data yang lain. fotonya pun tak ada. Benar-benar misterius.
“Emangnya siapa, sih, nih orang? Misterius banget! Masa data-datanya hanya segitu.”, heran Maki. Begitu juga dengan Kanata, namun hanya di dalam hatinya saja dia menampakkan kegelisahannya.
“Kamu tahu kapan siswa asing itu mulai belajar di sekolah kita?”, tanya Kanata.
“He-he-he.... Mana aku tahu!”, seru Maki. “Kamu saja yang raja informasi ngga tahu, apalagi aku.”, tambahnya lagi.
“Siswa asing itu asli keturunan Inggris atau anak seperti kita yang ikut kedua orang tuanya dan akhirnya belajar di sana tapi balik lagi ke Jepang?”, Kanata balik bertanya pada Maki yang sedang asyik bermain game di laptop milik Kanata. Namun, Maki hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dia juga tidak mengetahuinya denga jelas.
Terdengar hiruk-pikuk siswa-siswi kelas II-E ketika mereka melihat dua mobil Jaguar hitam berhenti di halaman sekolah mereka.
“Tuh-tuh.... Siswa pertukaran pelajarnya udah datang!”, tunjuk Maki ke arah cewek yang baru saja turun dari salah satu Jaguar hitam bersama Wakil Kelapa Sekolah.
Kanata hanya memandang cewek itu sekilas dan melanjutkan permainan yang telah dimainkan oleh Maki.
“Apanya yang menarik sih, dari cewek asing itu? Kalian kok ngeliatin cewek itu terus.”, kesal Maki pada teman-teman sekelasnya.
(Bersambung ke Part 2...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar