I. Penyamaran dan Penyelidikan Azuka
(Part 2)
Sementara itu di halaman sekolah.
“Terima kasih telah mengantar kami sampai di sini.”, ucap Wakil Kepala Sekolah pada tiga pria bertaksedo hitam.
Dua mobil itu pun segera kembali ke kediaman keluarga Hirosima.
“Can you speak in Japan?”, tanya Wakil Kepala Sekolah.
“Of course. Sebelum ke negara ini, saya sudah belajar bahasa Jepang untuk percakapan sehari-hari dan menghapal kosakata-kosakata yang umumnya digunakan dalam percakapan Jepang.”, ucapnya. “Bahasa Jepang saya jelek, ya?”, tanyanya.
“Oh tidak! Bahasa Jepang anda sangat baik.”, puji Wakil Kepala Sekolah.
Ibu Wakil Kepala Sekolah mengantarnya ke ruangan Kepala Sekolah yang terletak di tingkat teratas gedung sekolah ini.
‘TOK-TOK-TOK....’
“Masuk!”, Kepala Sekolah SMA Angel, Atsuki Hiroya, sedang merapikan berkas-berkas siswa–siswi kelas II-E ketika Wakil Kepala Sekolah dan siswa asing masuk.
“Pak Hiroya, nona Hallway sudah sampai di sekolah kita.”, ucap Ibu Wakil Kepala Sekolah lalu segera meninggalkan mereka dan mengecek keadaan setiap kelas.
“Azuka-chan!”, seru Atsuki sambil memeluk Azuka. Tentu saja Azuka kaget bukan main.
“Aduh kebiasaanmu ini belum hilang-hilang juga, ya. Udah lima tahun loh!”, kenang Azuka.
“Kamu banyak berubah, ya. Rambut hitam kesayanganmu?”, Atsuki memperhatikan Azuka dari ujung kaki hingga rambutnya.
“Kamu kayak ngga tahu aku aja. Mana mungkinlah aku mau mengubah rambut kesayangan sepupuku yang tercinta ini.”, ujar Azuka sembari melepas wig yang dipakainya. “Kamu kan yang menyuruh aku menyamar seperti ini. Emangnya ada apa sih, seorang Atsuki membutuhkan bantuan jauh-jauh dari Amerika segala?”, lanjutnya lagi.
“Nih baca. Ini semua milik siswa-siswi kelas II-E.”, Atsuki menyodorkan setumpuk buku pada Azuka.
“Apaan nih? Banyak banget!”. Dilihatnya satu per satu buku-buku itu. Raut wajahnya menandakan ketidakpercayaan. “Masa depan Jepang bisa suram kalau para generasi mudanya seperti ini.”, lanjutnya.
“Kamu mau bantuin aku kan, untuk mengurus kenakalan mereka? Sebenarnya sih, mereka ngga nakal-nakal amat, hanya saja susah diatur dan senang membuat kegaduhan, terutama Go Sakuragi. Teman-temannya biasa memanggilnya dengan sebutan Lee.”, jelas Atsuki.
“Aku sih mau-mau aja. Tapi........,”, Azuka menimbang-nimbang apakah dia akan membantu menyelesaikan permasalahan kelas II-E atau tidak. Karena sebenarnya dia sedang dalam masa pencaharian bahan-bahan untuk tesisnya nanti.
“Gimana? Mau, ya? Aku udah ngga tahu harus minta tolong sama siapa lagi untuk mengajar di kelas itu. Lagipula, kalian kan seumuran. Mungkin saja mereka akan menerimamu. Dan aku percaya Azuka pasti bisa menjinakkan kelas II-E. Kamu kan mempelajari keadaan emosi dan jiwa manusia. Mungkin saja dengan itu kamu bisa mengetahui apa kemauan mereka dan menyelesaikannya.”, pinta Atsuki.
“Ok-ok! Tapi, sebelum aku mengajar mereka, aku akan menyelidiki keadaan mereka secara langsung selama satu minggu ke depan. Setelah itu, aku seolah-olah menjadi guru baru di sini yang khusus mengajar di kelas mereka.”, ucap Azuka seiring dengan selesainya melihat-lihat semua data siswa-siswi kelas II-E.
“Selama satu minggu ke depan kamu datang ke Jepang sebagai salah satu siswa pertukaran pelajar dari Inggris yang ditunjuk untuk membandingkan sistem pembelajaran Jepang dengan Inggris.”, jelas Atsuki. “Tapi, aku ngga menaruhmu di kelas II-E melainkan di kelas II-D untuk mewaspadai kemungkinan yang akan terjadi. Kamu harus berhati-hati jangan sampai orang-orang mengenalimu. Ingat! Ini misi rahasia antara kamu dan aku saja.”, Atsuki memperingatkan.
“Ok! Tapi, apa aku harus memakai seragam seperti siswi-siswi di sekolah ini?”.
“Tentu saja. sekarang ganti pakaianmu dengan seragam ini di toilet.”, perintah Atsuki.
Tak cukup sepuluh menit Azuka mengganti pakaiannya dan mempersiapkan buku-buku yang akan digunakannya. Atsuki mengantarnya sampai di kelas II-D dan memperkenalkannya pada semua siswa kelas II-D. Kelas menjadi gaduh setelah Atsuki meninggalkan Azuka bersama Seika, guru Sastra dan Sejarah Jepang.
“Anak-anak harap tenang!”, seru Seika dengan suara lantang. “Hari ini kita kedatangan siswa pertukaran pelajar dari Inggris. Ibu berharap kalian dapat membantu nona Hallway selama dia berada di sekolah kita.”, perintah Seika.
“Baik, Bu.”, ucap mereka serentak.
“Baiklah nona Hallway, silahkan duduk di bangku kosong deretan ketiga itu.”, Seika menunjuk bangku yang ada di samping Mitsuki.
“Baiklah anak-anak, pelajaran kita lanjutkan kembali.”.
‘Aku beruntung banget!’, batin Azuka senang.
Azuka sangat menyukai sastra dan sejarah Jepang. Walaupun dia tidak dibesarkan di negeri sakura ini, tapi dia sangat mencintai kebudayaan negara yang dikenalnya sampai ditamatkannya pendidikannya di SD. Dan selanjutnya Azuka menamatkan SMP, SMA dan S1nya di Australia, tempat kedua orang tuanya mengadakan penelitian dan penyelidikan benda-benda langit.
Di Australia dulu sebelum sebulan memasuki ujian sekolah di SMA, para siswa diwajibkan membuat sebuah karya ilmiah. Karena ketertarikannya dengan budaya Jepang inilah sehingga Azuka memilih untuk membuat karya ilmiahnya tentang sastra dan sejarah budaya Jepang. Belasan buku tentang kebudayaan Jepang yang terdapat di perpustakaan kota Sydney dibacanya sampai habis. Selain itu dia juga browsing di internet.
Karena kesukaannya membuat penelitian dan karya ilmiah yang berbobot, Azuka mendapat beasiswa dari salah satu universitas ternama di Amerika untuk memperoleh gelar masternya di bidang psikologi kriminal khususnya kenakalan remaja. Dan sementara ini dia sedang mengadakan penelitian untuk bahan tesisnya.
‘Sepupuku sayang, aku terima permintaan kamu karena aku punya tujuan lain selain menyelesaikan permasalahan di kelas itu. Sory karena aku ngga bilang soal penelitianku ini.’, batin Azuka ketika menerima tawaran Atsuki sebelum dia berada di tengah-tengah siswa kelas II-D yang sedang menerima pelajaran.
Tak terasa bel istirahat berbunyi. Begitu Seika keluar kelas, orang-orang pada berdatangan ke bangku Azuka dan Mitsuki. Mereka bertanya tentang sistem pembelajaran di Inggris. Mereka terkagum-kagum mendengar penjelasan Azuka.
“Hebat banget!”, seru Mitsuki setelah teman-teman sekelasnya meninggalkan mereka berdua di kelas.
“Ngga juga kok. Aku pikir, sistem pembelajaran di Inggris dan Jepang ngga beda-beda amat.”, kilah Azuka.
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi Azuka. Setelah bercerita dengan beberapa siswa unggulan di kelas I, II dan III, dia langsung berdiskusi dengan para anggota OSIS SMA Angel. Sangat melelahkan. Yang rencananya mau menyelidiki kelas II-E akhirnya tidak jadi.
(Bersambung ke Part 3...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar